RAHASIA TAKDIR ILAHI
Bismillahi al-Rahmani al-Rahim...
Assalamualaikum...
Sering mendengar kalimat,
"Jodoh, rizki dan maut sudah ada yang mengatur". Sebuah kalimat yang
menunjukkan seorang hamba merendahkah dirinya serenda rendahnya. Mengakui
kebesaran Tuhannya. Hak preogatif, yang tidak sedikitpun dimiliki oleh
ciptaannya.
Banyak praktik atau amalan yang
sering diajarkan dan dilakukan untuk "merubah-mempengaruhi" suatu
takdir. Beberapa diantaranya ;
Bersedekah. Sedekah
merupakan suatu amalan dengan memberikan sebagian harta dengan mengharap ridha
dari Allah SWT, sebagai bukti ketaqwaan seorang muslim. Sedekah mempunyanyai
banyak manfaat, salah satunya memanjangkan umur. Diriwayatkan dari sahabat
Amr bin Auf, Rasulullah SAW, bersabda, “Sesungguhnya sedekah seorang muslim dapat
menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang su’ul khotimah, Allah akan
menghilangkan sifat sombong, kefakiran, dan sifat berbangga diri darinya”(HR.
Thabrani).
Ada sebuah kisah mengenai dahsyatnya sedekah ini. Kejadian
tersebut terekam dalam perbincangan Nabi Ibrahim AS, dengan malaikat Maut, Nabi
Ibrahim ditemui oleh Malaikat Maut dan bertanya, "siapakah
gerangan anak muda yang baru saja menemuimu ?", Nabi Ibrahim
menjawab, "bahwa anak muda itu besok akan melangsungkan
pernikahan". Malaikat pencabut nyawa menimpali kembali, "anak
muda itu akan saya cabut nyawanya malam ini sehingga besok pagi tidak akan
terjadi pernikahan".
Namun, keesokan harinya anak itu tetap hidup dan tidak terjadi
sesuatu apapun pada dirinya, dan melangsungkan akad nikah. Hari demi hari,
bulan berjalan serta tahun berganti. Hingga pemuda tersebut mencapai umur tujuh
puluhan. Kemudian Nabi Ibrahim bertemu dengan malaikat maut dan menyampaikan
bahwa anak muda yang pernah disebut akan dicabut nyawanya, ternyata memiliki
umur yang panjang. Malaikat maut menjawab, "bahwa pada malam itu,
ketika si pemuda meninggalkan rumahnya, pemuda tersebut menyedekahkan sebagian
hartanya untuk jalan Allah, dan saya diminta Allah untuk tidak mencabut
nyawanya".
Riwayat diatas ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW, "Jagalah dirimu dari siksa neraka walaupun dengan sepotong kurma. Jika tidak mampu maka cukup dengan kata-kata yang baik". Maknanya, sebagai umat Nabi Muhammad SAW diminta untuk senantiasa bersedekah, walaupun yang dimiliki hanya sepotong kurma, yang konklusi akhirnya agar terhindar dari api neraka.
Bersilaturahmi. Banyak sekali tafsir ataupun pandangan mengenai kata silaturahmi. Ada yang menjelaskan secara logika dan ada juga yang menukilnya dengan riwayat-riwayat. Adapun riwayat tersebut seperti yang diwayatkan Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim”(Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067). Sanad ini hasan, namun shahih dengan keseluruhan jalannya.
Allah SWT, sangat membenci orang yang memutuskan silaturahmi (dengan sengaja). Terdapat sebuah kisah, ada umat yang semasa hidupnya hanya beribadah. Lalu ketemu dengan Nabi Musa As. dan memintanya untuk menanyakan kepada Allah SWT , “Ya Musa AS, sekiranya engkau bertemu Allah SWT, tolong tanyakan : kami nantinya ketika meninggal berada di tingkat berapa dalam surga ?". Kemudian Nabi Musa AS, menyampaikan kepada Allah SWT, dan jawabannya bahwa ahli ibadah tersebut tempatnya bukan di syurga tapi di neraka jahannam. Betapa kagetnya kaum ahli ibadah tersebut. Ternyata jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan selama ini. Mengerjakan dengan menggebu ibadah Hablu al-Minallahnya, akan tetapi menghiraukan Hablu al-Minannasnya.
Singkat cerita, Nabi Musa AS, diminta kembali menghadap kepada
Allah SWT, untuk menanyakan mengapa mereka ditempatkan di neraka ?. Dalam
perjalanana Nabi Musa AS, menemui Allah SWT, kaum ahli ibadah tersebut berdoa
kepada Allah SWT, "Ya Allah sekiranya Engkau memang menakdirkan
kami masuk neraka, maka jadikan badanku ini sebesar neraka sehingga tidak ada
lagi orang yang masuk neraka".
Nabi Musa akhirnya tiba di hadapan Allah SWT, dan siap menanyakan
kembali alasan kenapa hamba-hamba ahli ibadah tersebut dimasukkan ke neraka
jahannam. Lantas Allah SWT, mengatakan bahwa, "sebelum engkau
bertanya, Aku katakan bahwa hamba ahli ibadah tadi semuanya masuk syurga".
Nabi Musa AS, seketika bingung, lalu Allah menimpali, "mereka
masuk surga karena memikirkan kepentingan kaum lain, tidak semata-mata untuk
kepentingannya. Tetapi juga memikirkan kepentingan untuk orang lain. Maka
mereka termasuk penghuni syurga".
Semoga pembaca tergolong hamba-hamba yang diampuni
dosa-dosanya dan menempati tempat terbaik disisi Allah yaitu surga firdaus pada
hari penghakiman kelak, dengan senantiasa bersedekah dan menjaga silaturrahmi.
...BERLANJUT
Comments
Post a Comment